Bolehkah Pengantin Tayamum Dan Jamak Shalat Selesainya Pada Make-up ? – Konsultasi Kepercayaan Islam

Oleh Tgk Alizar Usman (Pengasuh Konsultasi Agama Islam)�

KAI MERUPAKAN KERJASAMA SERAMBI INDONESIA DENGAN IKATAN SARJANA ALUMNI DAYAH (ISAD)

Pengasuh Konsultasi Agama Islam (KAI), bapak Tgk Alizar Usman, yg dirahmati Allah. Senang kami lihat ada KAI, kami yg nir mengaji kembali bisa bertanya walaupun dianggap masalah ringan, bagi dunia kerja kami, sering jadi perkara dan kami nir tau wajibmelakukan apa.

Mohon penerangan hukum tentang pengantin baru telah di make up (rias), apakah boleh tayamum karena susah dirias ulang memakan ketika usang & dana besardan tidak mungkin diulang karena program sedang berlangsung. Dan bolehkah jama’ sholat lantaran sangat sukar meninggalkan pelaminan saat puncaktamu, terutama sholat dhuhur. Semoga Allah menjaga kita seluruh. Terima konsultan ipo kasih atas jawabannya.

Banda Aceh MUA Pengantin Syari� Dara Al-Khairi

Terima kasih Sdri Dara Al-Khairi menurut MUA Pengantin Syar�i di Banda Aceh yg telah membuahkan ruang Konsultasi Agama Islam, kolaborasi serambinews.com menggunakan ISAD ini menjadi loka bertanya. Menjawab pertanyaan Sdri, bisa dijelaskan menjadi berikut :

1.� Kebolehan tayamum dalam fiqh berdasarkan firman Allah berbunyi :

?????? ????????? ?????? ?????????????? ???????? ???????? ???????????? ????????????? ???????????? ????????

“Lalu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah menggunakan debu yg suci, usaplah wajah & tanganmu menggunakan debu itu,” (Q.S. al-Maidah: 6)

Dalam ayat di atas, dijelaskan bahwa kebolehan tayamum dikaitkan menggunakan karena nir terdapat air. Para ahli fiqh menafsirkan tidak terdapat air pada sini mencakup nir terdapat air dalam kenyataan (hissi) dan nir ada air dalam syara�.

Baca juga: Bagaimana Hukum Ketika Shalat Kena Popok Anak jasa konsultan yang Bernajis – Konsultasi Agama Islam

Yang dimaksud nir terdapat air pada syara� merupakan ada air pada hissi, tetapi nir boleh digunakan pada syara�. Kedua jenis karena ini, oleh Imam al-Nawawi menjabarkannya pada karena-sebab boleh tayamum ini dia :Tidak ada air �Ada air, tetapi dibutuhkan buat minuman insan atau fauna yg dihormati syara� Sakit, dimana bila menggunakan air dikuatirkan hilang anggota tubuh atau lambat sembuh ataupun menimbulkan stigma yang malu pada dhahir anggota tubuh Sangat dingin. (Minhaj al-Talibin : 16-17)

Memperhatikan sebab-sebab kebolehan tayamum atas, terutama karena tayamum alfabet�b� s/d �d� adalah �uzur yang wajibdiperhatikan. Sehingga berlaku qaidah fiqh :

Sebuah kewajiban nir boleh ditinggalkan kecuali dengan sebab yg wajibjua.

Adapun mempertahankan permanen utuh rias pengantin dalam program pesta pernikahan bukanlah adalah kewajiban dalam syara�. Sehingga nir boleh dijadikan alasan membolehkan tayamum buat melaksanakan shalat.

Apalagi jika rias pengantin tadi sudah masuk dalam katagori tabarruj (memperlihatkan kecantikan atau perhiasan yg bisa menarik perhatian pria yang bukan mahram) yang diharamkan sebagaimana umumnya terjadi dalam pesta pernikahan zaman sekarang, maka bisa dipastikan tidak boleh tayamum.

Lantaran tayamum adalah rukhsah (keringanan) pada agama, sedangkan rukhsah tidak boleh lantaran faktor maksiat. Qaidah fiqh mengatakan :

Rukhsah tidak dikaitkan menggunakan maksiat.

Perlu menjadi catatan bahwa masih banyak cara lainyg bisa dilakukan buat menghormati tamu dalam pesta pernikahan bila ketika shalat sudah tiba sebagaimana akan kami sebutkan dalam akhir goresan pena ini

dua.� Adapun masalah jamak shalat, mari kita simak penjelasan Imam al-Nawawi pada Majmu� Syarah al-Muhazzab berikut :

(??????) ??? ????????????? ??? ????????? ??? ????????? ????? ?????? ??? ??? ????? ??????: ??????????? ?????????? ????? ????????? ????????? ?????????? ?????????????? ??????? ??? ??????? ??????? ????? ??????????? ???? ????????? ????????? ????? ?????? ????? ????? ?? ???????? ????????? ???? ??? ???? ??????????? ???????

Masalah mazhab jasa pengurusan ipo ulama mengenai jamak shalat pada saat hazhir (tidak musafir) tanpa faktor ketakutan, musafir & sakit, yakni mazhab kita (Mazhab Syafi�i), Mazhab Abu Hanifah, Malik, Ahmad & jumhur ulama berpendapat nir boleh.

Tetapi Ibnu al-Munzir menceritakan pendapat menurut sekelompok ulama yang menyampaikan boleh menggunakan tanpa karena apapun. Ibnu Siriin membolehkannya karena kebutuhan atau selama tidak menjadikannya sebagai suatu norma. (Majmu� Syarah al-Muhazzab IV/264).

Baca jua: Hukum Menundukkan Badan Ketika Berjalan di Depan Jamaah Shalat – Konsultasi Agama Islam

Juga penjelasan Imam al-Nawawi �pada Raudhah al-Thalibin :

?????? ????? ?????????????? ???? ??????????? ?????????? ???????????? ???? ????? ????????? ?????????????? ??????? ????????? ??? ????????? ??????????? ???? ?????? ?????????? ?????????? ???????????? ???????????? ?????? ????? ????? ??????????? ???? ????????????

Al-Khathabiy sungguh sudah menceritakan menurut al-Qafal al-Kabiir al-Syaasyii berdasarkan Abu Ishaq al-Marwaziy boleh jamak pada ketika hazhir (tidak musafir) karena ada kebutuhan tanpa disyaratkan ada ketakutan, hujan dan sakit.

Pendapat ini adalah pendapat Ibnu al-Munzir menurut pengikut Syafi�i. (Raudhah al-Thalibin I/401)

Sesuai menggunakan penjelasan al-Nawawi di atas, bahwa jumhur ulama, termasuk pada dalamnya imam mazhab yg empat beropini jamak shalat shalat tanpa faktor ketakutan, musafir & sakit nir dibolehkan.

Dengan demikian pendapat yg berkata boleh jamak shalat hanya lantaran hajat (kebutuhan) atau selama nir sebagai kebiasaan bertentangan dengan mazhab yang empat dan jumhur ulama.

Al-Ruyaaniy telah menyebut pendapat ini menjadi pendapat ghalzun (tersalah) (Bahr al-Mazhab II/350). Pendapat ini pula bertentangan dengan hadits Nabi SAW berbunyi :

?? ??? ??? ?????? ?? ??? ??? ??? ??? ???? ?? ????? ???????

Barangsiapa yg melakukan jamak antara dua shalat dengan tanpa �uzur, maka dia telah mendatangkan pintu menurut pintu-pintu dosa besar . (H.R. al-Turmidzi, al-Baihaqi dan lainnya)

Setelah menolak pendapat yang menyampaikan boleh jamak shalat hanya lantaran hajat (kebutuhan) atau selama nir menjadi norma menggunakan mengemukakan dalil-dalilnya, Ismail al-Zain (W. 1382 H), seseorang ulama mazhab Syafi�i mutaakhirin, menyimpulkan :

??? ??? ??? ??? ???? ???? ??????? ??????? ?? ??????? ??? ???? ???? ???? ?? ?? ???? ????????? ????? ??? ??? ??? ?? ???? ???? ??? ???? ??????? ??? ????? ?????

Apabila ini telah dimaklumi, maka apa yang sebagai pegangan mazhab yang empat adalah mu�tamad (sebagai pegangan) dan dengannya orang-orang yang mau menjagakan diri bagi �agamanya menundukkan diri pada Allah. Tidak bersandar kepada selain itu (selain pendapat mazhab empat) & tidak boleh jasa konsultan ipo berpegang dengannya & jua nir boleh taqlid pada yang mengatakan pendapat tersebut. (Qurratul �Ain bi Fatawa Isma�il al-Zain :82)

Baca jua: Hukum Mandikan Jenazah yg Meninggal Lantaran Tenggelam – Konsultasi Agama Islam

Adapun hadits Nabi SAW berbunyi :

?? ????? ??? ???? ???? ???? ??? ???????? ?? ??? ??? ??? ???

Sesungguhnya Nabi SAW melakukan shalat secara jamak pada Madinah tanpa ada sebab ketakutan dan hujan (H.R. Muslim)

Diantara takwil hadits ini yang dikemukakan jumhur ulama, yang dimaksud jamak pada hadits ini merupakan al-jam�u al-shuuri (seperti bentuk jamak), yakni melaksanakan shalat ketika pertama dalam akhir waktunya & melaksanakan shalat waktu ke 2 pada awal waktunya, sehingga ke 2 shalat tersebut berhampiran ketika pelaksanaannya, seolah-olah misalnya shalat jamak. (Qurratul �Ain bi Fatawa Isma�il al-Zain :82)

Dengan demikian, buat pertanyaan bolehkah jama’ shalat lantaran sangat sukar meninggalkan pelaminan saat puncaktamu, terutama shalat dhuhur ? jawabannya tidak boleh.

Lantaran hanya sekedar mendapat tamu dalam acara pesta pernikahan nir termasuk pada katagori �uzur dalam syara� yang membolehkan jamak shalat .

Baca jua: Hukum Menyalurkan Daging Qurban di Luar Domisili Yang Berqurban – Konsultasi Agama Islam

Solusi buat masalah pada pertanyaan Sdri Dara al-Khairi di atas

1.� Setelah shalat dilaksanakan, pengantin tampil saja secara sederhana tanpa perlu make up lagi (di Aceh dan Indonesia dalam biasanya pesta pernikahan dilakukan siang hari). Kami yakin para tamu bisa memahaminya. Bahkan tamu yang baik pasti bertambah menghormatinya karena melihat pengantin meskipun sedang dalam acara pesta pernikahannya, masih tetap melaksanakan shalat menjadi kewajibannya kepada Allah Ta�ala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *